My life in psikologi
Namun hati ku mati Tanpa rasa...
Tak berdaya....
Berselimut kabut cemas dan takut..
Berjalan diatas gelombang...
Pasang surut waktu ...
Yang senantiasa menyiksa rasa ku...
Bersama mu...
Menerkam keindahan kehidupan..
Engkau yang ada, kini
Mengundang fakta Kematian...
Engkau yang meraba
Kini memberi akta tampa pembuktian
Pergilah...!
Aku Kuat untuk bertahan.....
Yang tak pernah takut dan cemas ...
Dengan kepastian hidup ini,
Ku tenggelam
dalam hening malam ....
Namun...,
Tetap bersyukur ...
Dalam sebuah kesempatan tetap setia,memberi senyuman itu kembali... Kepada seluruh penduduk negeri, Ku mengabdi atas kehendak ilahi.
Bersama mu...
Menerkam keindahan kehidupan..
Engkau yang ada, kini
Mengundang fakta Kematian...
Engkau yang meraba
Kini memberi akta tampa pembuktian
Pergilah...!
Aku Kuat untuk bertahan.....
Aku kuat untuk tetap tersenyum...
bagaikan senyuman mentari..Yang tak pernah takut dan cemas ...
Dengan kepastian hidup ini,
Ku tenggelam
dalam hening malam ....
Namun...,
Tetap bersyukur ...
Dalam sebuah kesempatan tetap setia,memberi senyuman itu kembali... Kepada seluruh penduduk negeri, Ku mengabdi atas kehendak ilahi.
Indahnya cahaya bintang menghias kota Banda Aceh . Aku yang tengah menengadah menikmati perjalanan ku merasa kan sayup angin malam di kota ini. Perlahan meninggalkan Asrama tempat aku berteduh mengiringi perjalanan kak Sri yang ingin berbalik arah menuju keluarga tercinta. Perjalanan yang singkat selama 3 hari kini harus meninggalkan beban rindu diantara kami. Tawa dan canda kini memberi fakta unik tentang hati yang merasa bahagia atas kehadiran nya. Kulepas rindu itu dengan pelukan seorang adik terhadap kakak nya. Lambain tangannya kini memberi isyarat perpisahan kepada ku, Aku yang menemaninya selama ini menghirup angin lembut di kota Banda Aceh merasakan kenikmatan cinta seorang kakak yang akan pergi jauh dan tidak pasti akan bertemu kembali. Ku lihat disisi kiriku seorang kakak yang menyapaku dengan senyuman manisnya dan mengajakku segera melangkah pulang menuju asrama tempat aku berteduh. Ya perjalanan yang cukup melelahkan hati. Perpisahan yang menyiksa hati kini harus ku ikhlas untuk pergi terbang jauh bersama bintang di atas sana.
"Mia....mari kita pulang, ini sudah larut malam " ucap kak Devi pada ku. Dengan cepat aku memalingkan wajahku dan membalas senyuman itu dengan iringan anggukan. Aku mengikuti kak Devi meninggalkan parkiran bus kak Sri yang tengah menyiapkan startnya menuju arah Sumatra. Dalam perjalanan hati ku seakan memberikan isyarat untuk kembali berlari menuju tempat parkir bus yang akan membawa kak Sri pergi ,
air mata perpisahan tidak sanggup ku tahan lagi ia menetes perlahan membasahi belahan bumi yang ku tapaki. Namun ku sadari bahwa aku tidak pernah sendiri aku bersama Allah dan Mereka adalah titipan Allah yang sementara ku miliki. Aku berusaha menguatkan diri untuk pergi tampa menoleh arah itu kembali. Kutapaki bumi dengan panduan kak Devi hingga kami sampai di parkiran kereta yang akan menjadi tunggangan kami untuk kembali menuju asrama.
" Mia ayo segera kita udah larut ni, besok kamu kan harus kuliah pagi." Tegas kak Devi kepada ku yang merenggut seakan tidak ingin meninggalkan terminal bus. kini tiba saatnya duduk di belakang kak Devi sebagai penumpang setia aku menyegerakan ajakan kak Devi. Namun tak lama setelah kak devi menghidupkan kereta terdengar suara keras dan lantang memanggil nama Devi Dari kejauhan sana.
" Devi.....! Devi...! Kemana kau, Jangan lari kau..., Dengan langkah yang cepat laki - laki itu mendekat ke arah kami. Aku yang tadinya merasa mulai tenang, kini ketakutan dan mendekap kuat tubuh mungilku. Ku tatap wajah kakak Devi yang tersenyum di balik rasa takutnya ia berusaha tetap tersenyum pada ku yang mulai menggigil seakan suhu tubuh ku membakar keheningan malam perpisahan ini. Ya laki- laki aneh itu adalah pacarnya kak Devi yang sedang marah kepada kakak Devi.Ia memandang kak Devi dengan pandangan yang sangat tajam seakan ingin menerkam kak Devi di depan ku. Perdebatan senggit kini terjadi Kami yang tadinya ingin memulai start kini harus mengundur langkah karena amarahnya bang Gunawan yang memucak menarik keras jemari kak Devi. Aku yang ketakutan hanya mampu terdiam tampa berkata apapun. Pandangan ku terfokus pada mereka yang sedang memainkan aksi dan atraksi amarah nya masing-masing. " Cukup..cukup aku mau pulang sekarang " tegas kak Devi kepada bang Gunawan. " Apa " tatapan bang Gunawan semakin tajam kepada kak Devi. " Aku ngak akan kasih kalian pulang sebelum kau ikut aku...." Amarah bang Gunawan semakin kuat ia menoleh cepat ke arah ku dan mengancam kak Devi." dengar ya Devi aku ngak takut sama orang atau polisi , aku bunuh kalian berdua di sini tahu kau..." Dengan kuat dia menghentikan langkah kak Devi yang mau mendekati ku. Kak Devi yang telah terbiasa dengan gertakan bang Gunawan dan sikap keras bang Gunawan kini tetap melanjutkan langkahnya dan meminta ku untuk segera mengambil andil untuk naik kembali di belakang nya dan melanjutkan perjalanan pulang. Malam ini, bang Gunawan yang sedang di selimuti amarah, tidak mundur selangkah pun untuk mengejar kami. Malam seakan kehilangan pesonanya di tengah sengitnya perdebatan mereka. ku coba menatap langit mencari bintang sang penghias kota ini, namun tidak kutemukan ia di Antara gumpalan awan hitam yang terus berlari. "Oh tuhan, ku rindu cahaya bintang itu..." Bisik hatiku perlahan . Sambil menitiskan air mata takut, ku menengadah meminta pertolongan dari- Nya. Ku coba mendekap erat do'a di hati ku yang tengah gelisah, karena tidak mampu mengurangi sedikit pun ancaman bang Gunawan kepada kami. Ku mulai menatap sayu pesona kota, lintasan para pengemudi malam ini menjadi pameran bagiku, terangnya cahaya lampu jalanan kota seakan tidak mampu menjalankan tugas nya untuk menerangi kota. Ku coba untuk tenang agar kak Devi juga merasakan kehadiran ku di sisi nya. Aku yang mulai ketakutan, menatap sesekali ke belakang untuk memastikan mobil travello yang mengikuti perjalanan kami itu berhenti dan memberikan keleluasaan kepada kami.
" Kak seperti nya mobil bang Gunawan semakin mendekat kita" jelasku pada kak Devi.
" Ia Mia,kakak juga bisa lihat dari kaca kereta kita ini " tambah kak devi.
" Apa yang harus kita lakukan kak ? " Tanya ku ..
" Mia pegangan yang erat ya, kakak akan coba mempercepat laju kereta kita" perintah kak Devi pada ku.
" Baik kak " ucapku dengan menoleh sekali lagi ke belakang. Aku berharap mobil itu berhenti mengikuti kami.
Semua telah berjalan dengan kehendak- Nya, akhirnya mobil yang mengejar kami kini berada di samping memperlihatkan begitu jelasnya amarah bang Gunawan semakin memuncak kepada kami. Ia mulai menghambat jalan kami, laju mobilnya yang tak terkontrol seakan mengikuti melodi amarah nya yang belum padam. Hingga ia tidak berpikir panjang menyakiti kami. Amarah bang Gunawan telah berhasil membuat kami terjun ke dalam lubang jalan yang sangat dalam. " Setrrr" terdengar suara lompatan kereta kami. Bang Gunawan yang menyaksikan kejadian itu tertawa puas, dengan lantang ia menyambung tertawa nya dengan cacian dan makian.
" Mampus kalian...mati kalian ku buat malam ini...hahaha..." Tawa bang Gunawan memecah kesibukan para pengemudi malam ini. Aku yang berada di belakang kak Devi hanya bisa menghela nafas dan berusaha keras agar tidak terlihat ketakutan, hal ini ku lakukan untuk menegarkan kak Devi dalam hening malam itu.
" Kak Devi apakah tidak sebaiknya berhenti saja dulu ? Tanya ku
" Tidak Mia,kita tidak boleh menuruti permintaan dia, " jawab kak Devi meyakinkan ku.
" Tapi kak, bang Gunawan itu sudah berani melukai kita kak" tambahku...
" Ia Mia kakak tahu,Tapi dia tidak akan mungkin bisa kita dinginkan malam ini " sambil menghela nafas kak Devi mengajak ku melanjutkan perjalanan pulang. Aku mulai merasakan ketegangan ini kembali saat bang Gunawan melaju kencang dengan sengaja mendahului kereta kami yang tengah melaju kencang . "Turun kalian " dengan lantang nya dia meminta kami untuk turun dan mengikuti semua permintaan nya.
"Kenapa kamu seperti ini ? Jangan pernah ikut kan Mia ya... kalau memang mau membunuh aku silahkan.tapi lepaskan dia" ucap kak Devi sambil mencari aplikasi grab untuk mengantarkan ku pulang.
" Hahaha...aku nggak peduli, pokoknya malam ini kalau kalian nggak ikut dengan ku, kalian akan ku bunuh". Amarah bang Gunawan semakin memuncak. Aku yang mendengar perkataan nya mulai merasa lemas tak berdaya seketika itu, Aku merasakan keanehan pada memori masa kecilku. Semua cerita teman dan kenyataan lingkungan yang memetakan prilaku buruk laki- laki kini memenuhi semua ruang pikir ku. Rasa benci dan takut kepada kaum pria itu tumbuh lagi malam ini. Rasa cemas yang berlebih-lebihan tampa diiringi alasan yang jelas ketika bertemu laki-laki. Aku menggigil dan mengeluarkan keringat begitu deras. Jantung ku berdetak cepat seakan memompa dengan kuat........wait episode 2 in my life
" Mia ayo segera kita udah larut ni, besok kamu kan harus kuliah pagi." Tegas kak Devi kepada ku yang merenggut seakan tidak ingin meninggalkan terminal bus. kini tiba saatnya duduk di belakang kak Devi sebagai penumpang setia aku menyegerakan ajakan kak Devi. Namun tak lama setelah kak devi menghidupkan kereta terdengar suara keras dan lantang memanggil nama Devi Dari kejauhan sana.
" Devi.....! Devi...! Kemana kau, Jangan lari kau..., Dengan langkah yang cepat laki - laki itu mendekat ke arah kami. Aku yang tadinya merasa mulai tenang, kini ketakutan dan mendekap kuat tubuh mungilku. Ku tatap wajah kakak Devi yang tersenyum di balik rasa takutnya ia berusaha tetap tersenyum pada ku yang mulai menggigil seakan suhu tubuh ku membakar keheningan malam perpisahan ini. Ya laki- laki aneh itu adalah pacarnya kak Devi yang sedang marah kepada kakak Devi.Ia memandang kak Devi dengan pandangan yang sangat tajam seakan ingin menerkam kak Devi di depan ku. Perdebatan senggit kini terjadi Kami yang tadinya ingin memulai start kini harus mengundur langkah karena amarahnya bang Gunawan yang memucak menarik keras jemari kak Devi. Aku yang ketakutan hanya mampu terdiam tampa berkata apapun. Pandangan ku terfokus pada mereka yang sedang memainkan aksi dan atraksi amarah nya masing-masing. " Cukup..cukup aku mau pulang sekarang " tegas kak Devi kepada bang Gunawan. " Apa " tatapan bang Gunawan semakin tajam kepada kak Devi. " Aku ngak akan kasih kalian pulang sebelum kau ikut aku...." Amarah bang Gunawan semakin kuat ia menoleh cepat ke arah ku dan mengancam kak Devi." dengar ya Devi aku ngak takut sama orang atau polisi , aku bunuh kalian berdua di sini tahu kau..." Dengan kuat dia menghentikan langkah kak Devi yang mau mendekati ku. Kak Devi yang telah terbiasa dengan gertakan bang Gunawan dan sikap keras bang Gunawan kini tetap melanjutkan langkahnya dan meminta ku untuk segera mengambil andil untuk naik kembali di belakang nya dan melanjutkan perjalanan pulang. Malam ini, bang Gunawan yang sedang di selimuti amarah, tidak mundur selangkah pun untuk mengejar kami. Malam seakan kehilangan pesonanya di tengah sengitnya perdebatan mereka. ku coba menatap langit mencari bintang sang penghias kota ini, namun tidak kutemukan ia di Antara gumpalan awan hitam yang terus berlari. "Oh tuhan, ku rindu cahaya bintang itu..." Bisik hatiku perlahan . Sambil menitiskan air mata takut, ku menengadah meminta pertolongan dari- Nya. Ku coba mendekap erat do'a di hati ku yang tengah gelisah, karena tidak mampu mengurangi sedikit pun ancaman bang Gunawan kepada kami. Ku mulai menatap sayu pesona kota, lintasan para pengemudi malam ini menjadi pameran bagiku, terangnya cahaya lampu jalanan kota seakan tidak mampu menjalankan tugas nya untuk menerangi kota. Ku coba untuk tenang agar kak Devi juga merasakan kehadiran ku di sisi nya. Aku yang mulai ketakutan, menatap sesekali ke belakang untuk memastikan mobil travello yang mengikuti perjalanan kami itu berhenti dan memberikan keleluasaan kepada kami.
" Kak seperti nya mobil bang Gunawan semakin mendekat kita" jelasku pada kak Devi.
" Ia Mia,kakak juga bisa lihat dari kaca kereta kita ini " tambah kak devi.
" Apa yang harus kita lakukan kak ? " Tanya ku ..
" Mia pegangan yang erat ya, kakak akan coba mempercepat laju kereta kita" perintah kak Devi pada ku.
" Baik kak " ucapku dengan menoleh sekali lagi ke belakang. Aku berharap mobil itu berhenti mengikuti kami.
Semua telah berjalan dengan kehendak- Nya, akhirnya mobil yang mengejar kami kini berada di samping memperlihatkan begitu jelasnya amarah bang Gunawan semakin memuncak kepada kami. Ia mulai menghambat jalan kami, laju mobilnya yang tak terkontrol seakan mengikuti melodi amarah nya yang belum padam. Hingga ia tidak berpikir panjang menyakiti kami. Amarah bang Gunawan telah berhasil membuat kami terjun ke dalam lubang jalan yang sangat dalam. " Setrrr" terdengar suara lompatan kereta kami. Bang Gunawan yang menyaksikan kejadian itu tertawa puas, dengan lantang ia menyambung tertawa nya dengan cacian dan makian.
" Mampus kalian...mati kalian ku buat malam ini...hahaha..." Tawa bang Gunawan memecah kesibukan para pengemudi malam ini. Aku yang berada di belakang kak Devi hanya bisa menghela nafas dan berusaha keras agar tidak terlihat ketakutan, hal ini ku lakukan untuk menegarkan kak Devi dalam hening malam itu.
" Kak Devi apakah tidak sebaiknya berhenti saja dulu ? Tanya ku
" Tidak Mia,kita tidak boleh menuruti permintaan dia, " jawab kak Devi meyakinkan ku.
" Tapi kak, bang Gunawan itu sudah berani melukai kita kak" tambahku...
" Ia Mia kakak tahu,Tapi dia tidak akan mungkin bisa kita dinginkan malam ini " sambil menghela nafas kak Devi mengajak ku melanjutkan perjalanan pulang. Aku mulai merasakan ketegangan ini kembali saat bang Gunawan melaju kencang dengan sengaja mendahului kereta kami yang tengah melaju kencang . "Turun kalian " dengan lantang nya dia meminta kami untuk turun dan mengikuti semua permintaan nya.
"Kenapa kamu seperti ini ? Jangan pernah ikut kan Mia ya... kalau memang mau membunuh aku silahkan.tapi lepaskan dia" ucap kak Devi sambil mencari aplikasi grab untuk mengantarkan ku pulang.
" Hahaha...aku nggak peduli, pokoknya malam ini kalau kalian nggak ikut dengan ku, kalian akan ku bunuh". Amarah bang Gunawan semakin memuncak. Aku yang mendengar perkataan nya mulai merasa lemas tak berdaya seketika itu, Aku merasakan keanehan pada memori masa kecilku. Semua cerita teman dan kenyataan lingkungan yang memetakan prilaku buruk laki- laki kini memenuhi semua ruang pikir ku. Rasa benci dan takut kepada kaum pria itu tumbuh lagi malam ini. Rasa cemas yang berlebih-lebihan tampa diiringi alasan yang jelas ketika bertemu laki-laki. Aku menggigil dan mengeluarkan keringat begitu deras. Jantung ku berdetak cepat seakan memompa dengan kuat........wait episode 2 in my life

Komentar
Posting Komentar