My life psikologi episode 2

...... Akhirnya cahaya itu redup, iringan rasa takut menjadi kan cahaya itu padam. Aku yang begitu mudah melukis senyuman seakan lupa dengan warna senyuman itu. Aku yang begitu mahir menghibur diri kini hanya mampu pasrah mendengarkan gemuruh dalam hatiku. Air mata yang lama ku pendam semakin mendekati garis start nya, mencoba siaga di perbatasan dan bertahan untuk tidak terjatuh. Perjalanan hidup yang  panjang telah ku lalui, hingga tibalah saat untuk menuai hasil rekaman masa lalu ku yang buruk itu  bagi jiwaku. " Ya Allah apa yang terjadi padaku ?"..... Ucap ku yang baru saja pulang dari masjid Agung Al- Makmur. Aku yang begitu semangat  dan yakin akan hapalan ku, kini tidak mampu berkata apapun di depan ustadz pengujiku.  Gertakannya untuk membenarkan bacaan hapalan ku, mengugurkan semangat ku yang membara. Keringat dingin kini membasahi sekujur tubuh ku, Air mata ku seakan mendesak kuat ingin keluar di depan ustadz Ilham yang sedang memberikan nasehat nya kapadaku." Mia dengar baik- baik ya, jika kamu membaca Al-Qur'an ini saja masih salah, bagaimana mungkin kamu mengajar, saya takut kesalahan ini akan engkau ajarkan kepada anak- anak TPA nantinya " tegas ustadz Ilham padaku. Semangatku buram, ungkapan  ustadz Ilham membakar habis semangatku. Aku  merasa  pedihnya kata- kata ustadz Ilham itu menumbuhkan rasa tidak percaya diri kepada ku. Beliau yang ingin memberikan aku sedikit teguran  hanya mampu terdiam tanpa tahu peluh dalam hatiku . "Ustadz,..jika boleh ana minta waktu untuk belajar lagi ...,a mungkin ana tidak menyetor hapalan ini dalam jangka waktu yang lama " ucapku sambil mengarahkan pandangan ke arah jalan raya yang padat di isi oleh ragam warna kendaraan yang melintasi rambu jalan. Aku mencoba untuk tetap tidak menangis di hadapan ustadz Ilham. " Ustadz ana juga mau membeli buku hapalan ini" ucapkan ku Sambil menyodorkan lembaran uang dan buku santri kepada ustadz Ilham. Buku ini merupakan bahan hapalan surah Al- Qur'an yang di pilih untuk di hapalkan oleh ustadz/ ustadzah baru yang akan mengajar di TPA masjid Agung Al-Makmur.  Ustadz Ilham yang mengulas kekurangan bacaanku hanya terdiam sejenak. Ia memberikan kesempatan kepada ku, untuk  merasakan sejuknya angin di sore hari ini.  Aku yang melihat diamnya ustadz Ilham , merasakan kobaran api yang menyala dalam hatiku, aku bahkan tidak  sanggup mendengar dan melihatnya, namun ku mencoba meyakinkan diri bahwa diamnya ustadz ilham menjadi saksi isyarat bahwa beliau telah memberikan izin untuk ku sesuai permintaan ku. Aku yang tengah gelisah menggigil tampa sebab mencoba untuk membelakangi nya tampa menoleh sedikit pun.
 Mentari mulai menyebar pesona ke emasnya menandakan tiba  saatnya untuk kembali menuju asrama tempat aku berteduh. Asrama adalah saksi mati yang menyaksikan derasnya arus air yang keluar dari kedua belah mataku. Aku pulang dengan berjalan kaki. Ku berjalan fokus kedepan dengan tanpa menoleh sedikit pun kearah keramaian yang tengah kulintasi. Mata Ini menahan kuat tangis, Tanpa sadar mataku mulai  memerah mengertak sayup angin yang berlari mengikuti ku. Dalam perjalanan ini aku terus di hantui perkataan ustadz Ilham yang selama ini menjadi penguji ku. " Ya Allah segitu bodohnya kah aku "  hati ku mulai berbisik halus, ia mengutarakan padaku bahwa aku tidak mampu memberikan yang terbaik untuk orang lain. Bisikan ini sungguh membuat perjalanan ku terasa begitu lama. Aku tidak sabar lagi untuk membuka pintu kamar dan menumpahkan seluruh amarah dan air mata ku di dalamnya. Biarlah kamar ku yang menjadi korban tumpang tindih nya air mata ini. Sungguh, aku tidak sanggup lagi menahan rasa gemuruh dan sesak dalam hati ini, ku berlari dan memeluk tubuh munggilku.dengan cepat aku mengunci kamar dan menangis tersedu -sedu, tangis ini tidak  terkontrol lagi. Inilah caraku untuk melegakan perasaan hati ku. Selama tiga hari aku menahan demam akibat kejadian ini. Fakultas yang biasanya memberikan semangat untuk membuat ku tersenyum kini tidak mampu melakukan nya lagi. Sapaan hangat ku kepada teman- teman tidak terdengar lagi. Aku yang tidak suka dengan lamunan, kini di ikat oleh lamunan." Ya Allah apa yang terjadi padaku, aku tidak mengenal diriku lagi... kembalikan aku yang dulu....ku mohon.. " tatapan nanarku memandang langit biru diatas sana. Kuberharap langit mampu memberikan senyuman itu kembali. Setiap hari ku hanya mampu berdialog dengan langit dari lantai tiga fakultas psikologi  UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Aku terbiasa melamun dan menangis di tempat ini dan berdialog dengan langit diatas sana, tampa berpikir sedikit pun langit juga akhirnya akan bosan dengan pertanyaan ku ini. Namun  aku tetap melakukan nya." Ya Allah Sadar kan aku, " ucapku saat melihat langit diatas sana. Langit yang menyaksikan air mata ku hanya mampu terdiam dan memberikan  senyumanm yang membakar kulit wajah dan telapak tangan ku.
" Kak sedang apa ?" Liana menghampiri ku. Dengan cepat aku menoleh dan menghapus air mata yang telah mengalir tampa lelah.
" Ehh iya, kakak tidak apa- apa " ucapaku
"Kakak pasti ada masalah kan ? " Tanya Liana kepada ku....tatapan ku tidak mampu berbohong walaupun lisan ku telah mengutarakan kebohongan.
" Tidak kakak baik- baik saja, kakak hanya sedikit rindu kepada keluarga kakak di kampung" Tampa berkata banyak lagi aku berlari meninggalkan dia yang sedang kebingungan.
 Hari telah berganti, senya mulai menebar pesona indah nya, malam mulai merangkak, lantunan ayat suci Al-Quran dalam masjid mulai beradu. Jiwaku yang merasa binggung kini terhibur oleh merdunya irama Tilawatil  qori-qoriah yang di pasang oleh para petugas masjid. Sungguh ketenangan jiwa itu ku dapat kan hingga akhirnya ku terlelap, terbaring dengan hati yang penuh harap.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My life in psikologi